Hallo
semua,,,,sedikit cerita legenda yang ada di daerah asalku,,,mungkin cerita ini
seperti cerita legenda jaka tarub..tapi versi yang berbeda..oke langsung aja
yah
Telaga
itu tidak seberapa lebar dan dalam, kurang lebih tiga meter panjangnya dan dua
meter lebarnya dengan kedalaman dua meter. Airnya Bening dan jernih, tidak
pernah kering walau kemarau panjang sekalipun. Letaknya di atas sebuah
pematang, di bawah keteduhan, kelebatan, dan kerindangan pepohonan, khususnya
pohon limau. Jika pohon-pohon limau itu berbunga, berkerumunlah burung-burung
dan serangga mengisap madu. Di permukaan tanah itu menjalar dengan suburnya
sejenis tumbuhan, gadung namanya. Gadung mempunyai umbi yang besar dan dapat
dibuat menjadi kerupuk yang gurih dan enak rasanya. Akan tetapi, jika kurang
mahir mengolah bisa menjadi racun bagi orang yang memakannya karena memabukkan.
Daerah itu dihuni seorang lelaki tampan, Awang Sukma
namanya. la hidup seorang diri dan tidak mempunyai istri. Ia menjadi seorang
penguasa di daerah itu. Oleh karena itu, ia bergelar data. Selain berwajah
tampan, ia juga mahir meniup suling. Lagu-lagunya menyentuh perasaan siapa saja
yang mendengarkannya.
Awang Sukma sering memanen burung jika pohon limau
sedang berbunga dan burung-burung datangan mengisap madu. Ia memasang getah
pohon yang sudah dimasak dengan melekatkannya di bilah-bilah bambu. Bilah-bilah
bambu yang sudah diberi getah itu disebut pulut. Pulut itu dipasang di
sela-sela tangkai bunga. Ketika burung hinggap, kepak sayapnya akan melekat di
pulut. Semakin burung itu meronta, semakin erat sayapnya melekat. Akhirnya,
burung itu menggelepar jatuh ke tanah bersama bilah-bilah pulut. Kemudian,
Awang Sukma menangkap dan memasukkannya ke dalam keranjang. Biasanya, puluhan
ekor burung dapat dibawanya pulang. Konon itulah sebabnya di kalangan penduduk,
Awang Sukma dijuluki Datu Suling dan Datu Pulut.
Akan tetapi, pada suatu hari suasana di daerah itu
amat sepi. Tidak ada burung dan tidak ada seekor pun serangga berminat
mendekati bunga-bunga Iimau yang sedang merekah.
“Heran,” ujar Awang Sukma, “sepertinya bunga limau itu
beracun sehingga burung-burung tidak mau lagi menghampirinya.” Awang Sukma
tidak putus asa. Sambil berbaring di rindangnya pohon-pohon limau, ia
melantunkan lagu-lagu indah melalui tiupan sulingnya. Selalu demikian yang ia
lakukan sambil menjaga pulutnya mengena. Sebenarnya dengan meniup suling itu,
ia ingin menghibur diri. Karena dengan lantunan irama suling, kerinduannya
kepada mereka yang ia tinggalkan agak terobati. Konon, Awang Sukma adalah
seorang pendatang dari negeri jauh.
Awang Sukma terpana oleh irama sulingnya. Tiupan angin
lembut yang membelai rambutnya membuat ia terkantuk-kantuk. Akhirnya, gema
suling menghilang dan suling itu tergeletak di sisinya. Ia tertidur.
Entah berapa lama ia terbuai mimpi, tiba-tiba ia
terbangun karena dikejutkan suara hiruk pikuk sayap-sayap yang mengepak. Ia
tidak percaya pada penglihatannya. Matanya diusap-usap.
Ternyata, ada tujuh putri muda cantik turun dari
angkasa. Mereka terbang menuju telaga. Tidak lama kemudian, terdengar suara
ramai dan gelak tawa mereka bersembur-semburan air.
“Aku ingin melihat mereka dari dekat,” gumam Awang
Sukma sambil mencari tempat untuk mengintip yang tidak mudah diketahui orang
yang sedang diintip.
Legenda Telaga BidadariDari tempat persembunyian itu,
Awang Sukma dapat menatap lebih jelas. Ketujuh putri itu sama sekali tidak
mengira jika sepasang mata lelaki tampan dengan tajamnya menikmati tubuh
mereka. Mata Awang Sukma singgah pada pakaian mereka yang bertebaran di tepi
telaga. Pakaian itu sekaligus sebagai alat untuk menerbangkan mereka saat turun
ke telaga maupun kembali ke kediaman mereka di kayangan. Tentulah mereka
bidadari yang turun ke mayapada.
Puas bersembur-semburan di air telaga yang jernih itu,
mereka bermain-main di tepi telaga. Konon, permainan mereka disebut surui
dayang. Mereka asyik bermain sehingga tidak tahu Awang Sukma mengambil dan
menyembunyikan pakaian salah seorang putri. Kemudian, pakaian itu dimasukkannya
ke dalam sebuah bumbung (tabung dari buluh bekas memasak lemang). Bumbung itu
disembunyikannya dalam kindai (lumbung tempat menyimpan padi).
Ketika ketujuh putri ingin mengenakan pakaian kembali,
ternyata salah seorang di antara mereka tidak menemukan pakaiannya. Perbuatan
Awang Sukma itu membuat mereka panik. Putri yang hilang pakaiannya adalah putri
bungsu, kebetulan paling cantik. Akibatnya, putri bungsu tidak dapat terbang
kembali ke kayangan.
Kebingungan, ketakutan, dan rasa kesal membuat putri
bungsu tidak berdaya. Saat itu, Awang Sukma keluar dari tempat
persembunyiannya.
“Tuan Putri jangan takut dan sedih,” bujuk Awang
Sukma, “tinggallah sementara bersama hamba.”
Tidak ada alasan bagi putri bungsu untuk menolak.
Putri bungsu pun tinggal bersama Awang Sukma.
Awang Sukma merasa bahwa putri bungsu itu jodohnya
sehingga ia meminangnya. Putri bungsu pun bersedia menjadi istrinya. Mereka
menjadi pasangan yang amat serasi, antara ketampanan dan kecantikan,
kebijaksanaan dan kelemahlembutan, dalam ikatan cinta kasih. Buah cinta kasih
mereka adalah seorang putri yang diberi nama Kumalasari. Wajah dan kulitnya
mewarisi kecantikan ibunya.
Rupanya memang sudah adat dunia, tidak ada yang kekal
dan abadi di muka bumi ini. Apa yang disembunyikan Awang Sukma selama ini
akhirnya tercium baunya.
Sore itu, Awang Sukma tidur lelap sekali. Ia merasa
amat lelah sehabis bekerja. Istrinya duduk di samping buaian putrinya yang juga
tertidur lelap. Pada saat itu, seekor ayam hitam naik ke atas lumbung. Dia
mengais dan mencotok padi di permukaan lumbung sambil berkotek dengan ribut.
Padi pun berhamburan ke lantai.
Putri bungsu memburunya. Tidak sengaja matanya menatap
sebuah bumbung di bekas kaisan ayam hitam tadi. Putri bungsu mengambil bumbung
itu karena ingin tahu isinya. Betapa kaget hatinya setelah melihat isi bumbung
itu.
“Ternyata, suamiku yang menyembunyikan pakaianku
sehingga aku tidak bisa pulang bersama kakak-kakakku,” katanya sambil mendekap
pakaian itu.
Perasaan putri bungsu berkecamuk sehingga dadanya
turun naik. Ia merasa gemas, kesal, tertipu, marah, dan sedih. Aneka rasa itu
berbaur dengan rasa cinta kepada suaminya.
“Aku harus kembali,” katanya dalam hati.
Kemudian, putri bungsu mengenakan pakaian itu. Setelah
itu, ia menggendong putrinya yang belum setahun usianya. Ia memeluk dan mencium
putrinya sepuas-puasnya sambil menangis. Kumalasari pun menangis. Tangis ibu
dan anak itu membuat Awang Sukma terjaga.
Awang Sukma terpana ketika menatap pakaian yang
dikenakan istrinya. Bumbung tempat menyembunyikan pakaian itu tergeletak di
atas kindai. Sadarlah ia bahwa saat perpisahan tidak mungkin ditunda lagi.
“Adinda harus kembali,” kata istrinya. “Kanda,
peliharalah putri kita, Kumalasari. Jika ia merindukan ibunya, Kanda ambillah
tujuh biji kemiri, masukkan ke dalam bakul. Lantas, bakul itu Kanda
goncang-goncangkan. Lantunkanlah sebuah lagu denganngan suling Kanda. Adinda
akan datang menjumpainya.”
Putri bungsu pun terbang dan menghilang di angkasa
meninggalkan suami dan putri tercintanya. Pesan istrinya itu dilaksanakannya.
Bagaimana pun kerinduan kepada istrinya terpaksa dipendam karena mereka tidak
mungkin bersatu seperti sedia kala. Cinta kasihnya ditumpahkannya kepada
Kumalasari, putrinya.
Konon, Awang Sukma bersumpah dan melarang keturunannya
untuk memelihara ayam hitam yang dianggap membawa petaka bagi dirinya.
Telaga yang dimaksud dalam legenda di atas kemudian
diberi nama Telaga Bidadari, terletak di desa Pematang Gadung. Desa itu
termasuk wilayah Kecamatan Sungai Raya, delapan kilometer dari kota Kandangan,
ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan Propinsi Kalimantan Selatan.
Sampai sekarang, Telaga Bidadari banyak dikunjungi
orang. Selain itu, tidak ada penduduk yang memelihara ayam hitam, konon sesuai
sumpah Awang Sukma yang bergelar Datu Pulut dan Datu Suling.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar