Minggu, 22 September 2013

PEMBUATAN ALINIA/PARAGRAF



> Pengertian

Alinea atau paragraf adalah satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat yang pendek / singkat yang berisi sebuah pikiran dan membentuk satu gagasan. Bila dalam sebuah alinea terdapat lebih dari satu gagasan, berarti alinea itu tidak baik dan perlu dipecah menjadi lebih dari satu alinea.

Tujuan Pembuatan Paragraf :
a.Memudahkan pemahaman dengan menceraikan suatu tema dari tema yang lain.
b.Memisahkan dan menegaskan perhentian secara wajar dan formal.

Syarat syarat paragraf yang baik :
1 . Kepaduan Paragraf
Hubungan antara kalimat dengan kalimat. Untuk mencapai kepaduan, gunakanlah kata penghubung.

2. Kesatuan Paragraf
Yang dimaksud kesatuan adalah tiap paragraf hanya mengandung satu pokok pikiran yang diwujudkan dalam kalimat utama. Hal ini terbagi atas dua , yaitu paragraph deduktif, yang merupakan kalimat utama diletakkan di awal paragraf sedangkan paragraf induktif adalah kalimat utama diletakkan di akhir paragraf.

3. Kelengkapan Paragraf
Paragraf dikatakan lengkap apabila di dalamnya terdapat kalimat kalimat penjelas secara lengkap untuk menunjukkan pokok pikiran atau kalimat utama. Ciri ciri kalimat penjelas adalah berupa rincian, keterangan, contoh, dan lain-lain.

4. Di setiap paragraf harus memuat kalimat pokok. Biasanya diletakkan pada awal paragraf, tetapi bisa juga diletakkan pada bagian tengah maupun akhir paragraf. Kalimat pokok adalah kalimat yang inti dari ide atau gagasan dari sebuah paragraf. Biasanya berisi suatu pernyataan yang nantinya akan dijelaskan lebih lanjut oleh kalimat lainnya dalam bentuk kalimat penjelas.

5. Di setiap paragraf harus memuat kalimat penjelas. Kalimat penjelas adalah kalimat yang memberikan penjelasan tambahan atau detail rincian dari kalimat pokok suatu paragraf.

Unsur-unsur kebahasan :

Repetisi : pengulangan kata-kata yang dianggap cukup penting atau menjadi topik pembahasan.
Kata ganti : kata yang dipakai untuk menggantikan subyek pembicaraan.
Macam-macam kata ganti :
a. kata ganti orang pertama (I) : aku, saya, ku,
b. kata ganti orang kedua (II) : kamu, mu, kamu sekalian,
c. kata ganti orang ketiga (III) : Anda, Dia, Beliau,mereka, nya.
Kata transisi : kata yang berada di antara kata ganti dan kata repetisi.
Macam-macam kata transisi :
a. berhubungan dengan pertambahan;
b. berhubungan dengan perbandingan;
c. berhubungan dengan pertentangan;
d. berhubungan dengan tempat;
e. berhubungan dengan tujuan;
f. berhubungan dengan waktu;
g. berhubungan dengan singkatan

MACAM - MACAM PARAGRAF :
Menurut fungsinya
Alinea pembukaa.
a.membuka suatu karangan
b.menarik minat dan perhatian pembaca
c.menyiapkan pikiranpembaca

Alineapenghubung
Semua alinea yang terdapat diantara alinea pembuka dengan alinea penutup.

Alinea penutup
a.mengakhiri karangan/bagian karangan
b.mengandung kesimpulan yang bulat dan betul-betul mengakhiri uraian
c.menimbulkan banyak kesan

Menurut posisi kalimat topik :

a) Alinea Deduktif
Bila kalimat pokok ditempat pada bagian awal alinea akan terbentuk alinea deduktif, yaitu alinea yang menyajikan pokok permasalahan terlebih dahulu, lalu menyusul uraian yang terinci mengenai permasalahan atau gagasan alinea (urutan umum-khusus).
b) Alinea Induktif
Bila kalimat pokok ditempatkan pada akhir alinea akan terbentuk alinea induktif, yaitu alinea yang menyajikan penjelasan terlebih dahulu, barulah diakhiri dengan pokok pembicaraan (urutan khusus-umum).
c) Alinea Deduktif-Induktif
Bila kalimat pokok ditempatkan pada bagian awal dan akhir alinea, terbentuklah alinea campuran deduktif-induktif. Kalimat pada akhir alinea umumnya menegasakan kembali gagasan utama yang terdapat pada awal alinea.
d) Alinea Penuh Kalimat Topik
Semua kalimatnya penting. Alinea semacam ini sering dijumpai dalam uraian-uraian bersifat deskriptif dan naratif terutama dalam karangan fiksi.


Berdasarkan isinya :
a) alinea persuatif, jika isi alinea mempromosikan sesuatu dengan cara mempengaruhi atau mengajak pembaca.
b) alinea argumentatif, jika isi alinea membahas satu masalah dengan bukti-bukti alasan yang mendukung.
c) alinea naratif, jika isi alinea menuturkan peristiwa atau keadaan kedalam bentuk cerita.
d) alinea deskriptif, jika isi alinea melukiskan atau menggambarkan sesesuatu dengan bahasa.
e) alinea ekspositoris, jika isi alinea memaparkan sesuatu fakta atau kejadian tertentu.

Macam-macam Metode Pengembangan Paragraf
1. Klimaks dan Anti Klimaks
2. Sudut Pandangan / Point of View
3. Proses
4. Perbandingan dan Pertentangan
5. Analogi
6. Contoh
7. Kausal
8. Umum-Khusus / Khusus-Umum
9. Klasifikasi
10. Definisi Luas
Berikut ini adalah beberapa penjelasannya.
*7contoh dibawah ini yang saya buat adalah hasil dari pemahaman saya sendiri dengan melihat beberapa sumber.

1. Cara Pertentangan
Pengembangan paragraf dengan cara pertentangan biasanya menggunakan ungkapan. Ungkapan seperti berbeda dengan, sedangkan , lain halnya dengan , akan tetapi ,
dan bertolak belakang dari.

Contoh :
Kekuatan tim voli yang berasal dari bandung kini sangat jauh berbeda dari tim bandung pada jaman 2000an. Dimana dengan tim bandung yang sekarang, mereka lebih memiliki kulitas tim dan pemain yang berhasil juara dan menjadi tim yang patut di segani di daerah jawa barat dan sekitarnya.

2. Cara perbandingan
Pengembangan paragraf dengan cara perbandingan biasa menggunakan ungkapan
Seperti seruan dengan, seperti halnya , demekian juga , sama dengan , sejalan dengan ,
akan tetapi , sedangkan , dan sementara itu.

Contoh :
Bemo adalah sebutan alat transportasi beroda empat yang pada masanya sangat dibutuhkan oleh masyarakat umum. Bemo begitulah sebutannya yang terkenal di wilayah Kota Bogor. Bajaj hampir mirip dengan bemo., akan tetapi bajaj hanya mempunyai 3 roda. Seperti halnya bemo, bajaj pun digunakan sebagai alat transportasi di Kota Jakarta yang kini sudah sulit untuk kendaraan bajaj ini beroperasi karena semakin banyaknya kendaraan lain yang lebih digandrungi masyarakat.

3. Cara Analogi
Analogi adalah bentuk pengungkapan suatu objek yang di jelaskan dengan objek lain yang memiliki kesamaan atau kemiripan.

Contoh :
Anak itu sering sekali menghabiskan uang jajannya untuk sesuatu barang yang tak penting. Bahkan ia rela meminjam uang kepada teman kelasnya. Ibaratnya besar pasak daripada tiang, pengeluarannya banyak namun pendapatan sedikit.


4. Cara Contoh
Kata seperti , misalnya , contonya , dan lain lain adalah ungkapan. Ungkapan dalam pengembangan dalam mengembangkan paragraf dengan contoh.

Contoh :
Setiap manusia membutuhkan banyak vitamin. Vitamin itu sendiri banyak terkandung di buah-buahan dan sayur-sayuran. Buah-buahan yang banyak mengandung vitamin, contohnya jeruk, jambu biji, mangga dan banyak lainnya.

5. Cara Sebab Akibat
Pengembangan paragraf dengan cara sebab akibat dilakukan jika menerangkan suatu kejadian , baik dari segi penyebab maupun dari segi akibat.

Contoh :
Shelly melahap habis jajanan yang dibelinya di pinggir jalan kemarin. Tanpa memperhatikan jajanan yang dibelinya sudah tercemar polusi. Akibatnya shelly sekarang tidak masuk kuliah karena perutnya sakit. Oleh karena itu, dia harus meminum obat diare.

6. Cara Definisi
Adalah, yaitu, ialah, merupakan adalah kata-kata yang di gunakan dalam mengembangkan paragraf dengan cara definisi.

Contoh :
Ayah saya seorang dokter. Dokter adalah pekerjaan yang membantu orang sakit untuk dapat sembuh dari penyakitnya. Banyak sekali bidang kedokteran, yaitu dokter spesialis anak, umum, bedah, kulit, dan lain sebagainya. Masing-masing bidang tersebut memiliki perbedaan dalam masalah penanganan terhadap pasiennya.

7. Cara Klasifikasi
Cara klasifikasi adalah pengembangan paragraf melalui pengelompokan berdasarkan cirri-ciri tertentu.

Contoh :
Banyak sekali jenis-jenis hewan. Hewan dibedakan dari 3 jenis, seperti herbivora, karnivora, dan omnivora. Herbivora yaitu jenis hewan pemakan daun atau tumbuh-tumbuhan, karnivora termasuk hewan pemakan daging, dan omnivora adalah hewan pemakan segalanya.


Pengertian Kalimat Majemuk dan contoh Kalimat Majemuk


 (Pengertian Kalimat Majemuk dan contoh Kalimat Majemuk) – Kalimat majemuk adalah suatu kalimat yang terdiri dari dua klausa atau lebih yang saling berhubungan. Ada 2 kalimat majemuk yaitu:
a. Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara merupakan jenis kalimat majemuk koordinasipenggabungannya mempunyai kedudukan yang sama. Kata penghubung yang digunakan: dan, lalu, kemudian, tetapi, atau, bahkan.
b. Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat merupakan jenis kalimat majemuk yang unsur-unsurnya tidak sederajat. Salah satu unsurnya berfungsi sebagai induk kalimat, sedangkan unsur yang lain sebagai anak kalimat. Kata penghubung yang digunakan, antara lain sejak, ketika, saat, meskipun, jika, supaya, agar. Apabila anak kalimat yang di depan, maka penulisannya dipisahkan dengan menggunakan tanda koma. Misalnya:
·        Lisa dan Tia meminjam buku di perpustakaan.
·        Para petani berangkat ke sawah sebelum matahari terbit.
·        Ketika pulang sekolah, saya kehujanan
·        Setelah selesai belajar, mereka bermain di halaman
Terimakasih anda sudah membaca “Pengertian Kalimat Majemuk dan contoh Kalimat Majemuk” semoga bisa bermanfaat.

KALIMAT MAJEMUK

KALIMAT MAJEMUK
Kalimat Majemuk

Kalimat majemuk adalah kalimat-kalimat yang mengandung dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk adalah kalimat yang terjadi dari gabungan dua kalimat tunggal atau lebih.



Karena kalimat majemuk merupakan gabungan dua kalimat tunggal atau lebih, maka dalam penggabungannya kalimat majemuk menggunakan kata gabung atau. Kata gabung dalam kalimat majemuk anatara lain : dan, sedangkan, walaupun, meskipun, atau, ketika, setelah, sebelum, sejak, saat, jika dan lain-lain.



JENIS KALIMAT MAJEMUK



1. Kalimat majemuk setara.

2. Kalimat majemuk bertingkat

3. Kalimat majemuk rapatan.

4. Kalimat majemuk campuran.



I. Kalimat Majemuk Setara



Kalimat majemuk setara adalah gabungan dua kalimat tunggal yang setara (sederajat) kedudukannya/ tidak ada yang lebih tinggi atau yang lebih rendah/ tidak ada induk kalimat dan tidak ada anak kalimat.



Kalimat majemuk setara dibagi manjadi 3 macam :

1) Kalimat majemuk setara menggabungkan. (menggunakan kata gabung: dan, sedangkan)

2) Kalimat majemuk setara pertentangan (menggunakan kata gabung : tetapi, meskipun, walaupun)

3) Kalimat majemuk setara pilihan. (menggunakan kata gabung : atau)



Contoh kalimat majemuk setara menggabungkan :

a. Ayah pergi ke kantor. (kalimat tunggal)

b. Saya pergi ke sekolah. (kalimat tunggal)

c. Ayah pergi ke kantor dan saya ke sekolah. (kalimat majemuk)



Contoh kalimat majemuk setara pertentangan

a. Ali anak yang pandai.(kalimat tunggal)

b. Ali anak yang malas belajar. (kalimat tunggal)

c. Ali anak yang pandai tetapi malas belajar. (kalimat majemuk)



Contoh kalimat majemuk setara pilihan.

a. Saya membeli kue donat.

b. Saya membeli pisang goreng.

c. Saya membeli kue donat atau pisang goreng.



II. Kalimat Majemuk Bertingkat



Kalimat majemuk bertingkat adalah gabungan dua kalimat tunggal dimana ada bagian yang lebih tinggi kedudukannya yang disebut sebagai induk kalimat, dan ada bagian yang lebih rendah kedudukannya yang disebut sebagai anak kalimat.

Induk kalimat adalah bagian yang diterangkan.

Anak kalimat adalah bagian yang menerangkan/sebagai keterangan.

Jenis anak kalimat :



a) Anak kalimat sebagai keterangan waktu

b) Anak kalimat sebagai keterangan sebab

c) Anak kalimat sebagai keterangan syarat

d) Anak kalimat sebagai keterangan akibat

e) Anak kalimat sebagai keterangan



Contoh:Ayah menulis surat, adik berdiri di sampingnya

S P O S P ket. tempat

Kalimat majemuk ada bermacam-macam. yaitu kalimat majemuk bertingkat. Mari kita perhatikan berikut ini.

Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat majemuk yang pola kalimatnya tidak

sederajat. Artinya, ada induk kalimat dan ada anak kalimat.

Anak kalimat mempunyai banyak

fungsi, salah satunya berfungsi sebagai pengganti keterangan syarat.

Kata yang digunakan

adalah jika, sekiranya, seandainya.





Contoh kalimat majemuk bertingkat adalah sebagai berikut.

Saya yakin sekolah kita akan lebih maju

Induk kalimat

jika adik-adik rajin belajar

Anak kalimat

Demikian tadi sambutan dari saya

Induk kalimat

sekiranya ada kata-kata yang salah saya mohon maaf

anak kalimat

Kami tidak akan melupakan jasa Bapak Ibu guru

Induk kalimat

seandainya kami sudah menjadi orang sukses

anak kalimat


Definisi paragraf

Definisi paragraf
Definisi Paragraf :
Paragraf adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan atau karya ilmiah yang mana cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru. Paragraf dikenal juga dengan nama lain alinea. Paragraf dibuat dengan membuat kata pertama pada baris pertama masuk ke dalam (geser ke sebelah kanan) beberapa ketukan atau spasi. Demikian pula dengan paragraf berikutnya mengikuti penyajian seperti paragraf pertama.
§  Syarat sebuah paragraf
Di setiap paragraf harus memuat dua bagian penting, yakni :
1. Kalimat Pokok
Biasanya diletakkan pada awal paragraf, tetapi bisa juga diletakkan pada bagian tengah maupun akhir paragraf. Kalimat pokok adalah kalimat yang inti dari ide atau gagasan dari sebuah paragraf. Biasanya berisi suatu pernyataan yang nantinya akan dijelaskan lebih lanjut oleh kalimat lainnya dalam bentuk kalimat penjelas.
2. Kalimat Penjelas
Kalimat penjelas adalah kalimat yang memberikan penjelasan tambahan atau detail rincian dari kalimat pokok suatu paragraf.
§  Bagian – Bagian Suatu Paragraf yang Baik
1.     Terdapat ide atau gagasan yang menarik dan diperlukan untuk merangkai keseluruhan tulisan.
2.     Kalimat yang satu dengan yang lain saling berkaitan dan berhubungan dengan wajar.
§  Syarat paragraf agar menjadi padu ada tiga, yaitu
1. Kepaduan paragraf
Terdapat dua jenis kata penghubung, yaitu kata penghubung intrakalimat dan kata penghubung antarkalimat. Kata penghubung intrakalimat adalah kata yang menghubungkan anak kalimat dan induk kalimat, sedangkan kata penghubung antarkalimat adalah kata yang meghubungkan kalimat yang satu dengan yang lainnya.
Contoh :
§  penghubung intrakalimat : karena, sehingga, tetapi, sedangkan, apabila, jika , maka, dan lain – lain.
§  Penghubung antarkalimat : Oleh karena itu, jadi, kemudian, selanjutnya, bahkan, dan lain – lain.
2. Kesatuan paragraf
Kalimat utama yang diletakkan di awal paragraf dinamakn Paragraf deduktif, sedngkan di akhir paragraf disebut paragraf induktif
3. Kelengkapan paragraf
Terdapat kalimat penjelas secara lengkap
§  Beberapa pengembangan paragraph yaitu terdiri :
1. Cara Pertentangan
Pengembangan paragraf ini menggunakan ungkapan-ungkapan dengan cara pertentangan seperti, berbeda dengan, akan tetapi, dan lain – lain.
Contoh :
Tono ingin sekali mengikuti pertandingan balap sepeda, akan tetapi dia tidak mempunyai sepeda.
2. Cara Perbandingan
Paragraf dengan cara perbandingan ini biasanya menggunakan ungkapan seperti, serupa dengan, seperti halnya, akan tetapi, sementara itu, dan lain – lain.
Contoh :
Setelah berhasil dengan gemilang mengorbitkan Bin Laden sebagai seorang pahlawan dan dermawan, Taliban sekarang kesulitan untuk memissahkan diri. Sementara itu, washington menginginkan Bin Laden diadili karena dituduh terlibat dalam peledakkan kedutaan besar AS di kenya dan Tanzania pada agustus 1998 yang memakan korban 200 orang lebih.
3. Cara Analog
Kata – kata yang digunakan yaitu ibarat, seperti, bagaikan, dan lain – lain.
Contoh :
Hidup itu bagaikan roda berputar seperti halnya kehidupan manusia. Yang selalu bergulir terkadang ada dia atas terkadang ada di bawah.
4. Cara – cara Contoh
Menggunakan kata – kata contoh seperti misalnya.
Contoh :
Menurut Gamawan Fauzi, seharusnya aparat pemerintah mempermudah pengurusan ijin. Sebab dengan diperolehnya ijin, misalnya Surat Ijin Tempat Usaha (SITU), maka terbuka sebuah usaha yang menyediakan lapangan pekerjaan bagi warga.
5. Cara Sebab – akibat
Kata – kata yang digunakan seperti padahal, akibat, karena, dan lain – lain.
Contoh :
Bin Laden dengan brigade 055 yang tangguh di medan perang dan jaringan global ”Al-Qaeda”-nya menjadi momok sang polisi dunia. Bin Laden dan jaringannya identik dengan teror yang dapat melecehkan superioritas negara adidaya tunggal ini, karena itu harus diabisi sampai ke akar – akarnya.
6. Cara Definisi
Kata – kata yang digunakan seperti adalah, yaitu, dan lain – lain.
Contoh :
Paragraf adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan atau karya ilmiah yang mana cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru
7. Cara Klasifikasi
Kata – kata ungkapan yang lazim digunakan seperti dibagi menjadi, terbagi menjadi.
Contoh :
Menurut Oliver Curry, seorang pakar evolusi dari London School of Economic, spesies manusia akan terbagi menjadi dua, yaitu; golongan elit dan golongan terbelakang.


DEFINISI DAN JENIS-JENIS FRASA


Frasa dapat didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif. Dikatakan nonpredikatif yaitu karena frasa yang terdiri atas dua kata atau lebih tidak memeiliki hubungan / berstruktur subjek-predikat atau berstruktur predikat-objek. Frasa dalam sebuah kalimat hanya akan menempati satu fungsi saja, entah itu menjadi subjek saja, objek saja, predikat, dsb.
Selain bersifat nonpredikatif, kata-kata yang menyusun sebuah frasa adalah kata bebas atau morfem bebas. Jika sebuah gabungan kata terdiri atas 2 kata tetapi salah satu kata-nya bukan merupakan morfem bebas (morfem terikat) maka gabungan kata tersebut tidak dapat dikatakan sebagai frasa.
Sebagai perbandingan, kita lihat kata berikut:
1. Mobil baru
2. Buku bahasa
3. Antarkota
4. Tata boga

Gabungan kata pada nomor 1 dan 2 memiliki unsur kata/morfem yang keduanya bebas, sehingga gabungan kata tersebut dapat dikatakan sebagai frasa. Namun pada nomor 3 dan 4, kata-kata yang menyusun tidak semuanya merupakan kata/morfem bebas. Kata antar dan boga bukan merupakan morfem bebas atau morfem terikat. Oleh karena itu, gabungan kata nomor 3 dan 4 tidak dapat dikatakan sebagai frasa.

Ciri lain sebuah frasa adalah frasa memiliki kelonggaran untuk dapat disisipi kata lain. Sebagai contoh, frasa buku humor, buku baru, rumah kecil, memiliki kelonggaran untuk dapat disisipi kata lain seperti: buku mengenai humor, buku yang baru, rumah yang kecil, dan lain sebagainya. Namun demikian, walaupun frasa memiliki kelonggaran untuk disisipi kata lain, sebuah frasa tidak dapat dipisah atau dipindahkan sendirian kata-kata penyusunnya. Misalnya frasa “kamar mandi” dalam kalimat “Ayah sedang di kamar mandi” tidak dapat dipindahkan satu unsurnya saja menjadi “ Ayah di kamar sedang mandi”. Pemindahan seperti tersebut di atas jelas tidak diperkenankan karena menghilangkan arti yang sebenarnya.


JENIS-JENIS FRASA
Frasa secara umum dibedakan menjadi 4 macam yaitu frasa eksosentrik, frasa endosentrik (frasa subordinatif atau frasa modifikasi), frasa koordinatif, dan frasa apositif.

1. Frasa Eksosentrik
Yaitu frasa yang komponen-komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhanya. Adapula yang mendefinisikan frasa eksosentrik sebagai Frasa yang distribusinya tidak sama dengan salah satu atau semua unsurnya.
Sebagai contoh:
Frasa “jual beli” frasa ini tidak dapat digantikan dengan salah satu unsur frasa itu yaitu “jual” saja ataupun “beli” saja.

2. Frasa Endosentris
Yaitu frasa yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhanya. Lebih mudah dapat dikatakan bahwa frasa endosentris yaitu frasa yang distribusinya sama dengan salah satu atau semua unsurnya.
Sebagai contoh:
Frasa “sedang membaca” dapat dipenuhi maknanya dengan salah satu unsur frasanya yaitu membaca.
 
Dalam kalimat misalnya “ Saya sedang membaca buku” akan sama atau dapat siwakili dengan “Saya membaca buku”. Hal tersebut tidak berlaku dalam frasa eksosentrik.

3. Frasa Koordinatif
Adalah frasa yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat dan secara potensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif. Konjungsi yang digunakan dapat berupa konjungsi tunggal “dan, atau, tetapi” ataupun konjungsi terbagi “ baik … baik, makin … makin, dan baik … maupun”.
Contoh : sehat dan kuat, buruh atau majikan, makin terang makin baik,
Frasa koordinatif ada yang tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit, biasa disebut dengan frasa parataksis.
Contoh : hilir mudik, sawah lading, dua tiga hari, tua muda

4. Frasa Apositif
Adalah frasa koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya. Urutan komponen dalam frasa ini dapat dipertukarkan..
Contoh frasa: “Pak Ahmad, guru saya”
Dalam kalimat bisa disusun “ Pak Ahmad, guru saya, pandai sekali.” Frasa tersebut dapat juga disusun dalam bentuk berbeda yaitu “ Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.”

Kategori Frasa
1. Frasa Setara dan Frasa Bertingkat
Sebuah frasa dikatakan setara jika unsur-unsur pembentuknya berkedudukan sederajat atau setara.
Contoh:
Saya dan adik makan-makan dan minum-minum di taman depan.
Frasa saya dan adik adalah frasa setara sebab antara unsur saya dan unsur adik mempunyai kedudukan yang setara atau tidak saling menjelaskan. Demikian juga frasa makan-makan dan minum-minum termasuk frasa setara. Frasa setara ditandai oleh adanya kata dan atau atau di antara kedua unsurnya. Selain frasa setara, ada pula frasa bertingkat. Frasa bertingkat adalah frasa yang terdiri atas inti dan atribut.
Contoh:
Ayah akan pergi nanti malam.
Frasa nanti malam terdiri atas unsur atribut dan inti.

2. Frasa Idiomatik
Contoh:
1) Dalam peristiwa kebakaran kemarin seorang penjaga toko menjadi kambing hitam.
2) Untuk menyelamati saudaranya, keluarga Pinto menyembelih seekor kambing hitam.
Kalimat 1) dan 2) menggunakan frasa yang sama yaitu frasa kambing hitam. Kambing hitam pada kalimat 1) bermakna 'orang yang dipersalahkan dalam suatu peristiwa', sedangkan dalam kalimat 2) bermakna 'seekor kambing yang warna bulunya hitam'.
Makna kambing hitam pada kalimat 1) tidak ada kaitannya dengan makna kata kambing dan kata hitam. Frasa yang maknanya tidak dapat dirunut atau dijelaskan berdasarkan makna kata-kata yang membentuknya dinamakan frasa idiomatik.

KELAS FRASA
Frasa dibagi menjadi enam kelas kata. Pembagian frasa meliputi frasa benda, kerja, sifat, keterangan, bilangan, dan depan.

1. Frasa Benda atau Frasa Nomina
Frasa benda atau frasa nomina adalah frasa yang distribusinya sama dengan kata benda. Unsur pusat frasa benda yaitu kata benda.
Contoh:
a. Dita menerima hadiah ulang tahun.
b. Dita menerima hadiah.
Frasa hadiah ulang tahun dalam kalimat distribusinya sama dengan kata benda hadiah. Oleh karena itu, frasa hadiah ulang tahun termasuk frasa benda atau frasa nomina.

2. Frasa Kerja atau Frasa Verba
Frasa kerja atau frasa verba adalah frasa yang distribusinya sama dengan kata kerja atau verba.
Contoh:
Adik sejak tadi akan menulis dengan pensil baru.
Frasa akan menulis adalah frasa kerja karena distribusinya sama dengan kata kerja menulis dan unsur pusatnya kata kerja, yaitu menulis.

3. Frasa Sifat atau Frasa Adjektiva
Frasa sifat atau adjektiva adalah frasa yang distribusinya sama dengan kata sifat. Frasa sifat mempunyai inti berupa kata sifat. Kesamaan distribusi itu dapat dilihat pada jajaran berikut.
Contoh:
a. Lukisan yang dipamerkan itu memang bagus-bagus.
b. Lukisan yang dipamerkan itu – bagus-bagus.

4. Frasa Keterangan atau Frasa Adverbia
Frasa keterangan adalah frasa yang distribusinya sama dengan kata keterangan. Biasanya inti frasa keterangan juga berupa kata keterangan dan dalam kalimat sering menduduki fungsi sebagai keterangan.

a. Frasa keterangan sebagai keterangan.
Frasa keterangan biasanya mempunyai keleluasaan berpindah karena berfungsi sebagai keterangan. Oleh karena itu, frasa keterangan dapat terletak di depan atau di belakang subjek atau di awal dan di akhir kalimat.
Contoh:
1) Tidak biasanya dia pulang larut malam.
2) Dia tidak biasanya pulang larut malam.
3) Dia pulang larut malam tidak biasanya.

b. Frasa keterangan sebagai keterangan pada kata kerja.
Contoh:
Saya tidak hanya bertanya, tetapi juga mengusulkan sesuatu.

5. Frasa Bilangan atau Frasa Numeralia
Frasa bilangan adalah frasa yang distribusinya sama dengan kata bilangan. Pada umumnya frasa bilangan atau frasa numeralia dibentuk dengan menambahkan kata penggolong atau kata bantu bilangan.
Contoh:
Dua orang serdadu menghampirinya ke tempat itu.

6. Frasa Depan atau Frasa Preposisional
Frasa depan adalah frasa yang terdiri atas kata depan dengan kata lain sebagai unsur penjelas.
Contoh:
Laki-laki di depan itu mengajukan pertanyaan kepada pembicara.

Frasa yang Bersifat Ambigu
Ambiguitas terkadang ditemui dalam susunan frasa. Ambiguitas berarti kegandaan makna.
Contoh:
Kambing hitam dan mobil tetangga baru. Frasa kambing hitam dapat mempunyai dua makna, yakni kambing yang berbulu (berwarna) hitam dan sebuah ungkapan yang berarti orang yang dipersalahkan. Frasa mobil tetangga baru juga dapat memiliki dua makna, yakni yang baru adalah mobil (milik tetangga) dan yang baru adalah tetangga (bukan mobilnya). Frasa ambigu akan menjadi jelas jika digunakan dalam kalimat.


Bahasa Indonesia yang baik dan benar

Bahasa Indonesia yang baik dan benar
Meskipun sudah sering didengar, ternyata belum semua orang memahami makna istilah “baik dan benar” dalam berbahasa. Tidak semua bahasa yang baik itu benar dan sebaliknya, tidak semua bahasa yang benar itu baik. Tentunya yang terbaik adalah bisa berbahasa dengan baik dan benar. Untuk dapat melakukannya, perlu dipahami dulu apa yang dimaksud dengan baik dan benar tersebut.
Bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan situasi. Sebagai alat komunikasi, bahasa harus dapat efektif menyampaikan maksud kepada lawan bicara. Karenanya, laras bahasa yang dipilih pun harus sesuai.
Ada lima laras bahasa yang dapat digunakan sesuai situasi. Berturut-turut sesuai derajat keformalannya, ragam tersebut dibagi sebagai berikut.
1.     Ragam beku (frozen); digunakan pada situasi hikmat dan sangat sedikit memungkinkan keleluasaan seperti pada kitab suci, putusan pengadilan, dan upacara pernikahan.
2.     Ragam resmi (formal); digunakan dalam komunikasi resmi seperti pada pidato, rapat resmi, dan jurnal ilmiah.
3.     Ragam konsultatif (consultative); digunakan dalam pembicaraan yang terpusat pada transaksi atau pertukaran informasi seperti dalam percakapan di sekolah dan di pasar.
4.     Ragam santai (casual); digunakan dalam suasana tidak resmi dan dapat digunakan oleh orang yang belum tentu saling kenal dengan akrab.
5.     Ragam akrab (intimate). digunakan di antara orang yang memiliki hubungan yang sangat akrab dan intim.
Bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa baku, baik kaidah untuk bahasa baku tertulis maupun bahasa baku lisan. Ciri-ciri ragam bahasa baku adalah sebagai berikut.
1.     Penggunaan kaidah tata bahasa normatif. Misalnya dengan penerapan pola kalimat yang baku: acara itu sedang kami ikuti dan bukan acara itu kami sedang ikuti.
2.     Penggunaan kata-kata baku. Misalnya cantik sekali dan bukan cantik banget; uang dan bukan duit; serta tidak mudah dan bukan nggak gampang.
3.     Penggunaan ejaan resmi dalam ragam tulis. Ejaan yang kini berlaku dalam bahasa Indonesia adalah ejaan yang disempurnakan (EYD). Bahasa baku harus mengikuti aturan ini.
4.     Penggunaan lafal baku dalam ragam lisan. Meskipun hingga saat ini belum ada lafal baku yang sudah ditetapkan, secara umum dapat dikatakan bahwa lafal baku adalah lafal yang bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau bahasa daerah. Misalnya: /atap/ dan bukan /atep/; /habis/ dan bukan /abis/; serta /kalaw/ dan bukan /kalo/.
5.     Penggunaan kalimat secara efektif. Di luar pendapat umum yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia itu bertele-tele, bahasa baku sebenarnya mengharuskan komunikasi efektif: pesan pembicara atau penulis harus diterima oleh pendengar atau pembaca persis sesuai maksud aslinya.
Dari semua ciri bahasa baku tersebut, sebenarnya hanya nomor 2 (kata baku) dan nomor 4 (lafal baku) yang paling sulit dilakukan pada semua ragam. Tata bahasa normatif, ejaan resmi, dan kalimat efektif dapat diterapkan (dengan penyesuaian) mulai dari ragam akrab hingga ragam beku. Penggunaan kata baku dan lafal baku pada ragam konsultatif, santai, dan akrab malah akan menyebabkan bahasa menjadi tidak baik karena tidak sesuai dengan situasi.
Jika saya perhatikan, semakin tidak benar bahasa saya sewaktu menulis atau berbicara, berarti semakin akrab hubungan saya dengan lawan bicara saya. Maaf, Mas Amal, saya belum bisa memenuhi imbauan untuk menggunakan bahasa yang benar di seluruh kicauan saya. Tapi saya usahakan untuk menggunakan bahasa yang baik.


DEFINISI HAKIKAT DAN CIRI KARANGAN ILMIAH

DEFINISI HAKIKAT DAN CIRI KARANGAN ILMIAH
Definisi karangan ilmiah menurut Brotowidjoyo (195:8-9), “Karya Ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodelogi penulisan yang baik dan benar”. Sementara menurut Eko Susilo, M. (1995:11), karangan ilmiah adalah suatu karangan atau tulisan yang diperoleh sesuai dengan sifat keilmuannya dan didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya atau keilmuannya.
Sementara itu, menurut Wikipedia bahasa Indonesia, karya ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
 
 
Ciri-ciri karangan ilmiah yaitu:
a. Sistematis, artinya mengikuti pola pengembangan tertentu, misalnya pola urutan, klasifikasi, kausalitas, dan sebagainya;
b. objektif, artinya pembahasan suatu hasil penelitian  sesuai dengan yang diteliti.;
c. cermat, tepat, dan benar;
d. tidak persuasif;
e. tidak argumentatif;
f.   tidak emotif;
g.  netral, artinya tidak mengejar keuntungan sendiri atau pihak tertentu;
h. tidak melebih-lebihkan sesuatu
 


TAHAPAN PENULISAN ILMIAH
A.    Tahap Persiapan
                            
ü  Menemukan masalah atau mengajukan masalah yang akan dibahas dalam penelitian (didukung oleh latar belakang, identifikasi masalah, batasan, dan rumusan masalah).
ü   Mengembangkan kerangka pemikiran yang berupa kajian teoritis
ü  Mengajukan hipotesis atau jawaban atau dugaan sementara atas penelitian yang akan dilakukan
ü   Metodologi (mencakup berbagai teknik yang dilakukan dalam pengambilan data, teknik   pengukuran, dan teknik analisis data)
                                            
B.     .Tahap Penulisan:
perwujudan tahap persiapan ditambah dengan pembahasan yang dilakukan selama dan setelah penulisan selesai. 
C.     Tahap Penyuntingan
dilakukan setelah proses penulisan dianggap selesai.


Tahapan Penulisan Ilmiah

1. Tahap Pemilihan Topik atau Pokok Bahasan
2. Tahap Pengumpulan Informasi dan Bahan
3. Tahap Evaluasi Informasi dan Bahan
4. Tahap Pengelolaan Pokok-pokok Pikiran
5. Tahap Penulisan
6. Tahap Penyuntingan
Lembar Pengesahan
Lembar pengesahan proposal skripsi berisi tanda tangan dan nama lengkap beserta gelar dari judul skripsi, pembuat, pembimbing dan penguji.
Abstrak
Abstrak adalah ringkasan singkat dari artikel penelitian, tesis, review, lanjutan konferensi atau setiap analisis mendalam tentang topik tertentu atau suatu disiplin, dan sering digunakan untuk membantu pembaca dengan cepat maksuda dan tujuan sebuah paper. 

Abstrak Ketika digunakan, selalu muncul pada awal naskah, bertindak sebagai titik-masuknya atau juga pendahuluan untuk setiap kertas akademik diberikan atau aplikasi paten. Abstrak dan indeks digunakan dalam disiplin ilmu yang ditujukan untuk menyusun paper, sastra untuk topik tertentu.
Daftar Isi
Merupakan daftar atau halaman yang ingin dibahas termasuk penomoran halaman pada makalah yang ingin dibuat. Tentunya pembuatan daftar isi ini juga harus sesuai dan dengan urutan yang sistematis.
Daftar Tabel
Merupakan kumpulan beberapa urutan tabel yang menunjang pembuatan tulisan/ karya ilmiah/ karangan. 

BAB 1 Pendahuluan
·                     Latar belakang masalah.
·                     Perumusan masalah.
·                     Pembahasan/pembatasan masalah.
·                     Tujuan penelitian.
·                     Manfaat penelitian.
BAB II Kajian teori atau tinjauan kepustakaan
·                     Pembahasan teori
·                     Kerangka pemikiran dan argumentasi keilmuan
·                     Pengajuan hipotesis
BAB III Metodologi penelitian
·                     Waktu dan tempat penelitian.
·                     Metode dan rancangan penelitian
·                     Populasi dan sampel.
·                     Instrumen penelitian.
·                     Pengumpulan data dan analisis data.
BAB IV Hasil Penelitian
·                     Jabaran varibel penelitian.
·                     Hasil penelitian.
·                     Pengajuan hipotesis.
·                     Diskusi penelitian, mengungkapkan pandangan teoritis tentang hasil yang didapatnya.