11 PERILAKU
MENYIMPANG SEKSUAL
Kawan,
di dunia ini banyak sekali hal-hal atau sesuatu yang menyimpang dari yang
sebagaimana mestinya kita hidup dan kita jalani, tak terkecuali masalah yang
berhubungan dengan seksualitas. Sekarang ini banyak kita jumpai di
tengah-tengah masyarakat orang yang mengidap kelainan/penyimpangan seksual baik
disebabkan faktor genetik (keturunan), ataupun lingkungan pergaulan. Oleh sebab
itu tidak ada salahnya kita mengetahui jenis penyimpangan apa saja yang terjadi
dalam hal seksualitas. Berikut ini 11
perilaku menyimpang seksual yang patut Kita ketahui (dan semoga Anda tidak
mengalaminya):
1. Ekshibisionisme
Definisinya adalah seseorang mendapatkan
kepuasan seksual dengan memamerkan bagian genitalnya sendiri kepada orang asing
yang tidak mau melihatnya. Bagi seorang ekshibisionis, kepuasan berasal dari
reaksi orang lain, yang secara keliru diduga (oleh si penderita) sebagai
ekspresi kepuasan seksual.
Kepuasan seksual diperoleh penderita
saat melihat reaksi terperanjat, takut, kagum, jijik, atau menjerit dari orang
yang melihatnya. Kemudian hal tersebut digunakan sebagai dasar untuk fantasi
masturbasi. Orgasme dicapai dengan melakukan masturbasi pada saat itu juga atau
sesaat kemudian.
2. Voyeurisme
Ciri utama voyeurism (di dunia
kedokteran dikenal sebagai skopofilia) adalah adanya dorongan yang tidak
terkendali untuk secara diam-diam mengintip atau melihat wanita yang sedang
telanjang, melepas pakaian, atau melakukan kegiatan seksual.
Penderita biasanya memperoleh kepuasan
seksual dari ‘tontonan’ tersebut. Wanita yang diintip biasanya tak dia kenal.
Mengintip menjadi cara eksklusif untuk mendapatkan kepuasan seksual. Anehnya,
ia sama sekali tidak menginginkan berhubungan seksual dengan wanita yang
diintip. Kepuasan orgasme biasanya didapat dengan cara masturbasi.
Uniknya, voyeurism sejati tidak
terangsang jika melihat wanita yang tidak berpakaian di hadapannya. Mereka
hanya terangsang jika mengintipnya. Dengan mengintip mereka mampu
mempertahankan keunggulan seksual tanpa perlu mengalami risiko kegagalan atau
penolakan dari pasangan yang nyata.
3. Frotteurisme
Menggosokkan badan atau memeluk orang lain
yang tidak mau. Hal seperti itu banyak ditemukan di tempat-tempat di mana kita
mau tidak mau berdesak-desakan satu sama lain, contohnya di kereta atau di bis
yang penuh sesak.
4. Pedofilia
Istilah yang sering sekali kita dengar.
Orang dewasa, terutama pria, yang mencari kontak fisik dan seksual dengan
anak-anak prapubertas yang tidak mau berhubungan dengan mereka.
Sekitar dua pertiga korban kelainan ini
adalah anak-anak berusia 8 – 11 tahun. Kebanyakan paedofilia menjangkiti pria,
namun ada pula kasus wanita berhubungan seks secara berulang dengan anak-anak.
Kebanyakan kaum paedofil mengenali korbannya, misalnya saudara, tetangga, atau
kenalan. Kaum paedofil dikategorikan dalam tiga golongan yakni di atas 50
tahun, 20-an hingga 30 tahun, dan para remaja. Seremnya lagi, sebagian besar
mereka adalah para heteroseksual dan kebanyakan sudah menjadi ayah.
5. Sadomasokisme
Sadisme seksual dan masokisme. Sadisme –
mengambil nama dari Marquis de Sade (1740-1814) adalah istilah yang digunakan
untuk menggambarkan kenikmatan atau rangsangan seksual yang diperoleh dengan
menimbulkan nyeri atau menyiksa pasangannya. Semakin sakit, semakin terangsang.
Masokisme – nama pengarang terkenal lain
tentang eksploitasi seksual, Leopold von Sacher-Masoch (1836-1895) menggambarkan
keinginan untuk mendapatkan nyeri dan kenikmatan seksual dari siksaan atau
hinaan (secara fisik atau verbal).
Penderita sadistik mendapatkan kepuasan
seksual dari menimbulkan rasa sakit dan/atau hinaan, sedangkan masokistik
mendapatkan kepuasan seksual dari menerima rasa sakit dan/atau hinaan.
Aktivitas seksual sadomasokistik ditandai oleh teknik yang melibatkan dominasi
dan penyerahan ekstrim dan dengan memberi dan menerima siksaan. Sebagian besar
penderita adalah wanita. Disebut sadomasokistik karena pelakunya memiliki sisi
sadistik dan masokistik dari kepribadian mereka. Tetapi, walaupun banyak yang
bertukar peran, masokistik lebih banyak dari sadistik.
6. Fetishisme
Fetishisme adalah ketergantungan pada
suatu bagian tubuh atau suatu benda (yang dinamakan fetish) untuk mendapatkan
rangsangan dan kepuasan seksual. Penderitanya menjadi terangsang dengan bagian
tubuh (misalnya bokong) atau suatu benda (biasanya pakaian dalam) yang bagi
sebagian besar orang hanya merupakan stimuli. Benda itu mungkin dapat menjadi
dasar fantasi atau membantu percintaan tetapi bukan menjadi pengganti aktivitas
seksual yang lebih konvensional. Secara umum fetishist adalah orang yang tidak
mampu menikmati seks tanpa adanya sebuah fetish. Fetish mungkin bagian tubuh
(seperti bokong, misalnya), benda mati (seperti sepasang sepatu), atau bahan
(seperti karet). Pada kasus ekstrim, objek fetish menjadi pengganti pasangan
manusia yang nyata.
7. Skatologia telepon
Bisa diartikan sebagai melakukan
hubungan telepon yang cabul dengan orang lain yang tidak menginginkannya.
8. Transvestisme
Transvestisme juga dikenal sebagai
berpakaian lawan jenis (cross-dressing). Bagi sebagian pria, transvestisme
merupakan suatu aktivitas seksual di mana kepuasan emosional dan fisik
diperoleh dari menggunakan pakaian wanita. Salah besar jika menganggap
transvestisme adalah homoseksual. Sebagian besar adalah heteroseksual dengan
kehidupan seks yang cukup konvensional dan banyak yang menikah serta memiliki
anak.
Pola pakaian lawan jenis cukup
bervariasi. Sebagian transvestist menolak pakaian pria sama sekali dan
menggunakan pakaian wanita sepanjang waktu. Sebagian lagi hanya menggunakan
pakaian wanita kadang-kadang saja atau sering kali, sedangkan yang lain hanya
memilih satu jenis pakaian saja. Sebagian penderita transvestisme memiliki
kepribadian ganda –satu pria dan satu wanita– dan berpakaian lawan jenis untuk
mengekspresikan kepribadian wanitanya sementara pada dasarnya adalah maskulin.
Biasanya kelainan ini bermula sejak
anak-anak atau remaja. Seperangkat pakaian yang disukai dapat menjadi benda
yang merangsang nafsu seksualnya. Awalnya dipakai pada saat masturbasi,
kemudian saat persetubuhan. Yang dikenakan mula-mula hanya terbatas
cross-dressing parsial (hanya mengenakan BH dan celana dalam), lama-kelamaan
mengenakan pakaian wanita lengkap, cross-dressing total. Yang terakhir
dilakukan ketika si penderita mulai merasa mampu berdikari, sekitar masa remaja
sampai dewasa muda. Frekuensi kejadiannya makin lama makin meningkat dan
akhirnya menjadi kebiasaan.
Seiring dengan bertambahnya usia,
kecenderungan untuk mendapatkan kepuasan seksual melalui cara ini dapat
berkurang atau bahkan hilang. Walaupun ada kalanya sejumlah kecil transvestit
muncul pada usia lebih lanjut, yang menghendaki mengenakan pakaian wanita dan
hidup sebagai wanita secara tetap.
Dalam kasus terakhir ini transvestisme
berubah menjadi transeksualisme; penderita ingin berganti kelamin, menjadi
seperti lawan jenis, dan tidak lagi mendapat kepuasan seksual hanya dengan
cross-dressing.
9. Satiriasis
Juga dikenal sebagai Don Juanisme atau
adiksi seksual. Kondisi ini adalah ekuivalen pria dari nimfomania, suatu
gangguan psikologis di mana pria didominasi oleh keinginan yang tidak
henti-hentinya untuk melakukan hubungan seksual dengan banyak pasangan yang
berbeda. Kadang-kadang diduga disebabkan oleh narsikisme yang kuat dan perasaan
perlunya kontrol dari perasaan inferior melalui keberhasilan seksual. Jenis
penyimpangan ini sangat berisiko untuk tertular penyakit kelamin dan HIV/AIDS.
10. Perilaku seksual
kompulsif
Adalah pengulangan tindakan erotik tanpa
kenikmatan. Kompulsi seksual ini bisa berupa telepon seks yang tanpa akhir,
one-night stand (affair singkat), atau masturbasi beberapa kali dalam sehari,
penderitanya seringkali mengaku merasa “tidak terkendali” sebelum aktivitas dan
merasa bersalah atau malu setelahnya. Apapun kepuasan seksual yang didapatnya,
tindakan tersebut adalah dangkal dan hambar.
Pencarian kepuasan seksual yang mereka
lakukan bersifat kompulsif, kadang-kadang ritualistik. Mereka merasa tidak
mampu mengendalikan dirinya sendiri selama pencarian, dan setelahnya merasa
putus asa, malu, dan membenci diri sendiri. Tetapi satu-satunya cara untuk
dapat lolos dari perasaan negatif itu adalah melalui pengulangan pencarian
kepuasan seksual yang untuk sementara mematikan atau menumpulkan perasaan malu.
Dengan demikian tercipta lingkaran setan yang tidak ada hentinya.
11. Incest
Hubungan seksual antara kerabat dekat di
mana perkawinan di antara mereka ditentang oleh hukum. Incest merupakan tabu
sosial yang besar, bahkan bisa merusak keturunan.
Sumber: Buku Man’s Body Sexual Fantasies (dikutip dari artikel di wikimu)
***
Setelah mengetahui jenis penyimpangan seksual di atas, ada baiknya kita pun
menjaga diri agar kita sebisa mungkin terhindar dari hal tersebut, karena
bagaimanapun sesuatu yang menyimpang sejatinya tidak baik walaupun kelihatannya
baik. Terhadap pengidap salah satu penyimpangan seksual di atas, kita pun
jangan sampai menjauhi apalagi mencacinya justru harus kita gandeng agar
penyimpangan tersebut berangsur hilang dan ke keadaan normal kembali. Bagi
kawan yang pengidap salah satu penyimpangan di atas, DenMas hanya bisa
mendoakan semoga diberikan petunjuk ke jalan yang benar. SEMOGA Kawan…